Kamis, 16 Juli 2009

Komunikasi Terpeutik dalam Proses Perawatan
  • Proses komunikasi : (Mubarak, Wahid Iqbal, dkk, 2007)

1. Reference, stimulus yang memotifasi seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dapat berupa pengalaman, ide atau tindakan.

2. Pengirim/ sumber/ encorder, disebut juga komunikator. Bisa perorangan atau kelompok.

3. Pesan/ berita, informasi yang dikirimkan. Dapat berupa kata-kata, gerakan tubuh atau ekspresi wajah.

4. Media/ saluran, alat atau sarana yang dipilih pengirim untuk menyampaikan pesan pada penerima/ sasaran.

5. Penerimaan/ sasaran/ decoder, kepada siapa pesan yang ingin disampaikan tersebut dituju.

6. Umpan balik/ feed back/ respons, reaksi dari sasaran terhadap pesan yang disampaikan.

  • Proses komunikasi terapeutik dalam perawatan.

1. Pengkajian (Purwanto, Heri, 1994)

- Menentukan kemampuan seseorang dalam proses informasi.

- Mengevaluasi data tentang status mental pasien untuk menentukan batas intervensi.

- Mengevaluasi kemampuan pasien dalam berkomunikasi secara verbal.

- Mengobservasi apa yang terjadi pada pasien tersebut saat ini.

- Mengidentifikasi tingkat perkembangan pasien sehingga interaksi yang diharapkan bisa realistik.

- Menentukan apakah pasien memperlihatkan sikap verbal dan nonverbal yang sesuai.

- Mengkaji tingkat kecemasan pasien sehingga dapat mengantisifasi intervensi yang dibutuhkan.

2. Diagnosa keperawatan (Potter & Perry, 1999)

- Analisa tertulis dari penemuan pengkajian.

- Sesi perencanaan tim kesehatan.

- Diskusi dengan klien dan keluarga untuk menentukan metoda implementasi.

- Membuat rujukan.

3. Rencana tujuan (Purwanto, Heri,1994)

- Rencana asuhan tertulis (Potter & Perry, 1999).

- Membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

- Membantu pasien agar dapat menerima pengalaman yang pernah dirasakan.

- Meningkatkan harga diri pasien.

- Memberikan support karena adanya perubahan lingkungan.

- Perawat dan pasien sepakat untuk berkomunikasi secara lebih terbuka.

4. Implementasi (Purwanto, Heri, 1994)

- Memperkenalkan diri kepada pasien.

- Memulai interaksi dangan pasien.

- Membantu pasien untuk dapat menggambarkan pengalaman pribadinya.

- Menganjurkan kepada pasien untuk dapat mengungkapkan perasaan kebutuhannya.

- Menggunakan komunikasi untuk meningkatkan harga diri pasien.

5. Evaluasi (Purwanto, Heri, 1994)

- Pasien dapat mengembangkan kemampuan dalam mengkaji dan memenuhi kebutuhan sendiri.

- Komunikasi menjadi lebih jelas, lebih terbuka dan berfokus pada masalah.

- Membantu menciptakan lingkungan yang dapat mengurangi tingkat kecemasan.

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar